Momentum HUT Bhayangkara ke-80, Keluarga Berharap Kapolda Sulteng Atensi Misteri Kematian Caca di Poso

oleh -43 Dilihat
Rony Sandhi.(Foto : PFI Palu)

Oleh: Rony Sandhi

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara setiap 1 Juli selalu menjadi momentum bagi Kepolisian Republik Indonesia untuk merefleksikan pengabdian kepada masyarakat. Di balik upacara, penghargaan, dan berbagai kegiatan sosial yang digelar, ada satu hal yang jauh lebih penting: menghadirkan keadilan bagi masyarakat yang masih menunggu kepastian hukum.

Di Sulawesi Tengah, salah satu kasus yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar adalah pembunuhan sadis terhadap seorang pelajar perempuan berusia 16 tahun, SBAP alias Caca, yang ditemukan tewas di kamar kosnya di Jalan Talasa, Kelurahan Lawanga Tawongan, Kecamatan Poso Kota Utara, pada 21 Oktober 2024.

Hingga menjelang HUT Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026, atau hampir dua tahun setelah peristiwa tragis itu terjadi, pelaku pembunuhan belum juga berhasil diungkap. Waktu terus berjalan, tetapi kepastian hukum masih menjadi harapan yang belum terjawab bagi keluarga korban.

Padahal, berbagai langkah penyelidikan telah dilakukan. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, mengambil sampel sidik jari di lokasi kejadian, melakukan pemeriksaan DNA terhadap beberapa pihak, hingga mengirimkan barang bukti ke Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri di Jakarta. Semua itu menunjukkan bahwa proses penyelidikan terus berjalan.

Namun, dari sudut pandang masyarakat, ukuran keberhasilan bukan hanya sejauh mana proses dilakukan, melainkan apakah pelaku berhasil ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Bagi keluarga Caca, khususnya sang ibu, Nina Sulelino, penantian panjang ini tentu bukan perkara mudah. Setiap hari yang berlalu tanpa kepastian menjadi beban psikologis yang terus bertambah. Mereka tidak hanya kehilangan anak tercinta, tetapi juga masih menunggu negara menghadirkan rasa keadilan.

Kasus ini bahkan pernah mendapat perhatian dari Komnas HAM yang mendorong agar penyelidikan dilakukan secara serius dan tuntas. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkara ini bukan hanya menjadi perhatian keluarga korban, tetapi juga menjadi perhatian publik.

Kini, harapan baru muncul dengan hadirnya Kapolda Sulawesi Tengah yang baru, Brigjen Pol. Nasri Sulaeman. Pergantian kepemimpinan selalu membawa harapan akan semangat baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk perkara-perkara yang hingga kini belum terungkap.

Momentum HUT Bhayangkara ke-80 menjadi waktu yang tepat bagi Polda Sulawesi Tengah, khususnya Polres Poso untuk menjadikan kasus pembunuhan Caca sebagai salah satu prioritas penegakan hukum. Perhatian khusus dari Polda tentu tidak dimaksudkan untuk mengintervensi penyidikan, melainkan memperkuat koordinasi, dukungan sumber daya, serta evaluasi agar proses pengungkapan berjalan lebih optimal.

Keberhasilan kepolisian selama ini dalam mengungkap berbagai kasus pembunuhan di daerah lain menunjukkan bahwa kerja keras, teknologi forensik, dan kolaborasi lintas satuan mampu menghasilkan titik terang. Optimisme yang sama tentu layak diberikan terhadap penanganan kasus Caca.

Masyarakat tidak berharap polisi bekerja tergesa-gesa hingga mengabaikan prinsip kehati-hatian. Sebaliknya, masyarakat berharap penyelidikan dilakukan secara profesional, berbasis alat bukti yang kuat, dan pada akhirnya mampu membawa pelaku ke hadapan pengadilan.

Karena sesungguhnya, keadilan yang terlambat akan selalu meninggalkan luka yang lebih dalam bagi keluarga korban. Semakin lama sebuah perkara belum terungkap, semakin besar pula ruang bagi munculnya berbagai spekulasi yang justru dapat mengganggu kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.

Di usia Bhayangkara yang ke-80, tema besar tentang pengabdian kepada masyarakat akan semakin bermakna apabila diiringi keberhasilan menghadirkan kepastian hukum bagi masyarakat yang masih menunggu keadilan.

Mengungkap kasus pembunuhan Caca bukan sekadar menyelesaikan satu berkas perkara. Lebih dari itu, ini adalah tentang mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa tidak ada kejahatan yang dibiarkan tanpa pertanggungjawaban dan bahwa setiap korban berhak memperoleh keadilan.

Semoga HUT Bhayangkara ke-80 tidak hanya dikenang sebagai perayaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum lahirnya komitmen baru untuk menuntaskan kasus-kasus yang masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk perkara pembunuhan Caca di Poso.

Sebab, bagi keluarga korban, hadiah terbaik bukanlah seremoni, melainkan terungkapnya pelaku dan hadirnya keadilan yang telah mereka nantikan hampir dua tahun lamanya.

*) Penulis adalah Ketua Ikatan Generasi Muda Pamona Poso (IGMPP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.