PALU – Insiden longsor kembali mengingatkan tingginya risiko keselamatan di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kota Palu. Sebuah lubang monyet di area PETI Vavolapo, Kecamatan Mantikulore, dilaporkan runtuh pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, sekitar pukul 19.45 Wita.
Runtuhan terjadi di bagian dalam lubang tambang dengan kedalaman sekitar 10 meter. Material longsoran menutup area kurang lebih seluas 3×3 meter, memperlihatkan kondisi lubang yang rawan dan tidak memiliki sistem pengamanan memadai.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut nyaris berujung fatal. Berdasarkan keterangan sumber di lokasi, dua penambang yang berada di dalam lubang sempat mendengar suara retakan pada dinding lubang sebelum akhirnya memutuskan keluar untuk menyelamatkan diri.
Keputusan tersebut dinilai krusial, sebab sekitar 15 menit setelah lubang ditinggalkan, dinding lubang monyet tersebut ambruk dan tertimbun material tanah.
“Kalau terlambat keluar, kemungkinan bisa tertimbun,” ujar salah satu warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Kabar longsor itu cepat menyebar dan mengundang perhatian warga sekitar. Sejumlah masyarakat bergegas mendatangi lokasi untuk memastikan tidak ada penambang yang terjebak di dalam lubang. Setelah dilakukan pengecekan secara visual, dipastikan tidak terdapat korban luka maupun korban jiwa.
Hingga malam hari, situasi di kawasan PETI Vavolapo dilaporkan dalam kondisi aman dan terkendali. Namun aktivitas pertambangan di sekitar lokasi masih terlihat berlangsung seperti biasa.
Pada Minggu, 8 Februari 2026, aparat dari Polsek Mantikulore yang berjumlah lima personel mendatangi lokasi longsor. Kehadiran aparat kepolisian tersebut untuk memastikan kondisi pasca-longsor serta memastikan tidak adanya korban akibat runtuhnya lubang monyet tersebut.
Sementara Kasubsi PIDM Humas Polresta Palu Aiptu I Kadek Aruna membenarkan telah terjadi longsor di lokasi PETI Vavolapo dan menyampaikan tidak ada korban jiwa dan korban luka.*





