Riset Tiga Kampus Ungkap Kondisi Biologis Tanah di Area Tambang CPM Masih Baik

oleh -37 Dilihat
Kawasan pertambangan milik PT CPM. (Dokumentasi CPM)

RADAR PALU – Aktivitas pertambangan kerap menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap lingkungan. Namun, hasil riset terbaru yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Tadulako (Untad), IPB University, dan Universitas Hasanuddin (Unhas) menunjukkan temuan menarik terkait kondisi kesehatan tanah di kawasan tambang emas Poboya, khususnya PT CPM.

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako sekaligus pegiat kajian lingkungan hidup strategis, Nur Edy, Ph.D., menjelaskan penelitian tersebut berfokus pada mikroba tanah sebagai indikator kesehatan lingkungan di kawasan tambang dan ekosistem sekitarnya.

Penelitian dilakukan oleh tim yang terdiri dari Dr. rer. nat. Rahadian Pratama, Nur Edy, Ph.D., dan Ira Taskirawat, Ph.D.

“Kami meneliti mikroba tanah sebagai indikator kesehatan lingkungan di tambang Poboya dan ekosistem sekitarnya, lalu membandingkannya,” ujar Nur Edy.

Menurutnya, tanah bukan sekadar media tempat tumbuh tanaman. Dalam satu genggam tanah terdapat miliaran mikroba yang berperan penting dalam menguraikan bahan organik, menyediakan unsur hara bagi tanaman, hingga membantu menetralisir berbagai zat pencemar.

Melalui penelitian tersebut, tim peneliti berupaya menjawab tiga pertanyaan utama, yakni siapa saja penghuni mikroba tanah di sekitar tambang emas Poboya, apakah aktivitas pertambangan memengaruhi kehidupan mikroba tersebut, dan apakah terdapat potensi mikroba yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bioprospeksi seperti pengembangan obat, antibiotik, maupun pengikat logam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan mikroba tanah di area tambang masih berada dalam kondisi yang baik. Tingkat keragaman mikroba yang ditemukan di kawasan tambang bahkan setara dengan yang terdapat di kawasan hutan sekitar.

“Kami tidak menemukan tanda-tanda kematian massal mikroba tanah. Komunitas mikroba di area tambang justru memiliki kemiripan yang tinggi dengan kawasan hutan hulu,” jelasnya.

Temuan lain yang cukup menarik adalah tidak ditemukannya indikasi tekanan logam berat yang biasanya muncul pada kawasan yang mengalami pencemaran. Menurut Nur Edy, mikroba yang hidup di lingkungan tercemar umumnya memiliki gen khusus yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap logam berat.

Namun dalam penelitian tersebut, gen ketahanan terhadap merkuri justru ditemukan dalam jumlah paling sedikit di area tambang yang diteliti.

“Hal ini sejalan dengan sistem pengolahan yang diterapkan perusahaan. Operasional tambang menggunakan sistem tertutup dengan proses sianida sesuai standar, bukan metode amalgamasi merkuri,” katanya.

Meski demikian, penelitian tetap menemukan perubahan kecil pada komposisi mikroba tanah. Salah satunya adalah peningkatan kelompok bakteri Actinomycetota, khususnya genus Streptomyces yang dikenal sebagai penghasil antibiotik alami.

Peningkatan tersebut teramati secara bertahap dari kawasan hutan menuju area tambang dan lahan revegetasi. Namun perubahan tersebut dinilai masih sangat kecil dan belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.

Dari seluruh temuan yang diperoleh, para peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan vegetasi atau tutupan tanaman memiliki peran sangat penting dalam menjaga kesehatan tanah.

“Selama pohon dan semak tetap tumbuh, akar dan serasahnya mampu meredam gangguan dari aktivitas di atas permukaan sehingga fungsi biologis tanah tetap terjaga,” ungkap Nur Edy.

Penelitian juga menemukan potensi besar kawasan hutan di sekitar Poboya sebagai sumber keanekaragaman hayati mikroba yang bernilai tinggi. Tim berhasil menyusun genom bakteri Variovorax boronicumulans yang memiliki sejumlah gugus gen penghasil senyawa bioaktif dan jalur pengikat besi.

Selain itu, ditemukan pula dua kandidat spesies mikroba yang belum pernah tercatat sebelumnya.

“Hutan Poboya dapat diibaratkan sebagai apotek alam yang masih menyimpan banyak potensi untuk diteliti lebih lanjut,” katanya.

Bagi masyarakat dan pengelola tambang, hasil penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting. Salah satunya adalah pentingnya menjaga tutupan vegetasi selama dan setelah kegiatan pertambangan berlangsung.

Selain itu, pemantauan lingkungan secara berkala tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tanah, air, dan ekosistem di sekitar kawasan tambang tetap terjaga.

Nur Edy menegaskan bahwa keberadaan hutan dan tutupan alami di sekitar wilayah tambang bukan hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jangka panjang sebagai sumber daya hayati yang berpotensi memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, hasil penelitian tersebut masih dalam proses penelaahan (under review) untuk dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Biological Chemistry. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.